Suatu saat kenalanku di twitter pernah nge-tweet begini: “Kenapa baca British books kesannya beda sama American books? British books joke2nya lebih ga bisa ditangkep (kecuali Harry Potter).” Kira2 begitulah tweet temenku tadi. Aku sempet bales sebisaku dan sepengetahuanku: “Karena British books joke2nya lebih sadis, sinis, dan kadang political.” Habis itu si temenku itu tadi nambahin lagi, “Dan juga kalo becandaan yg menyangkut seks suka lebih kejem.”
Hahaha… I’ve known it all along, actually. Baca segala teks yg memakai bahasa Inggris-Inggris (bukan Inggris-Amerika), haruslah siap fisik dan mental. Siap fisik karena harus memahami bahasa Inggris-Inggris yg masih pakem dan lebih sulit daripada bahasa Inggris-Amerika, juga siap mental buat nangkep dan ‘menerima’ joke2nya yg emang sering kali keterlaluan.
Contoh aja yg lebih gampang buat yg ga suka baca buku/novel. Suka sepak bola? Suka baca majalah Four Four Two? Well, aku suka banget baca Four Four Two (secara aku suka sepak bola, terutama Liga Inggris), dan dulu sempet beberapa kali baca versi aslinya (bukan yg terbitan Indonesia lho, maksudnya). Selain secara linguistik bahasa Inggris-nya beda sama bahasa Inggris-Amerika (aku kira sudah banyak orang tahu lah perbedaannya), gaya penulisannya juga ‘tega dan kejam’. Bagi para fans dari klub ato pemain tertentu, siap2 aja idolanya dihina-dina dengan kata2 becandaan yg nyeleneh. Nyeleneh dalam artian: lucu sih, tapi JAHAT!
Contoh yg paling aku inget (diambil dari versi terbitan bahasa Indonesia):
1). ada suatu artikel yg ngomongin tentang squad timnas Spanyol, terus ada perbandingan siapa kiper terbaik yg paling pantas menjaga gawang timnas Spanyol, tapi kelihatannya Iker Casillas masih menjadi pilihan utama, padahal waktu itu penampilan Pepe Reina cukup bagus dan menjanjikan. Nah, waktu itu foto mereka berdua disandingkan, terus ada balon omongan (kayak di komik2 gitu) yg ditempel di gambarnya Iker Casillas seolah2 dia bilang (padahal itu cuma becandaannya si penulis artikelnya aja) begini: “Kembali ke bangku cadanganmu, Reina!” Hahahaha LOL LOL LOL. Aku sih, ketawa2 aja, karena emang lucu. Tapi ya itu, sadis juga sih. Hehe.
2). Terus ada juga artikel yg membahas siapa pemain terseksi di Liga Spanyol, emang ga penting banget ya. Tapi lucunya adalah, ternyata menurut survei cewek2 di Spanyol sana, pemain terseksi di Liga Spanyol adalah pemain Athletic Bilbao bernama Aitor Oracio, terus ada komentar di artikel itu yg bunyinya gini: “Ternyata Cristiano Ronaldo cuma GR.” Hahahaha, sumpe deh.
Nah loh, yg versi terjemahan Indonesia aja udah kayak gitu, gimana yg versi aslinya? Sumpah, kalo baca yg versi aslinya, tulisan2 di majalah Four Four Two bisa lebih kejem lagi, dan lebih lucu.
Begitu juga dengan media newspaper-nya. Kalo suka iseng baca koran The Guardian versi online-nya, sama aja ‘tega dan kejam’-nya. Cara mereka menuliskan berita juga sama nyeleneh-nya dengan majalah Four Four Two.
Untuk karya sastra Inggris-Inggris, sejauh ini aku udah baca semua seri Harry Potter (walo becandaannya ga kejem, tapi kocaknya aneh juga), A Short History of Tractors in Ukrainian sama Two Caravans karya Marina Lewycka, terus yg terakhir One Day-nya David Nicholls. Rata2 semua sama: lucunya aneh, sadis, sinis, kadang political, dan ada juga beberapa bagian leluconnya tuh harus dicerna lamaaa…. dulu baru ngeh apanya yg lucu.
Yah, itulah sekelumit pengalamanku bersama bahasa Inggris-Inggris. Aku sendiri sejak kecil udah mempelajari dan terbiasa memakai bahasa Inggris-Amerika. Waktu kuliah aku juga lebih sering pake Inggris-Amerika, karena materi yg pake bahasa Inggris-Inggris tuh sedikit banget, paling2 cuma materi karya2 sastra klasik. Mana aku dulu juga anak American Studies pula.
Hueh, tapi jujur aja, sebenernya aku lebih suka kalo baca teks dalam bahasa Inggris-Inggris. Apakah itu karena aku adalah orang yg ‘tega dan kejam’?? Mungkin aja. Hehe. Tapi kalo ‘memproduksi’ bahasa Inggris secara lisan maupun tulisan, aku masih lebih condong dan enak pake bahasa Inggris-Amerika.