02.09.10
Sosialisme dalam Demokrasi
Well, yah…kalo kita ngomongin media emang ga ada habisnya ya…apalagi kalo ngomongin gimana mereka suka ‘menggiring’ opini publik. Suatu hari aku nonton berita di salah satu stasiun tv yg ngebahas betapa mirisnya keadaan di mana masih ada banyak orang miskin di Indonesia tapi presiden malah beli mobil mahal dan pesawat. Pemerintah dituduh seolah2 ga ‘terjadi apa2′ dan dengan enaknya beli kebutuhan yg dianggap ‘enggak mendesak’. Masalahnya bukan kebutuhan itu mendesak ato ga, ato apakah barang2 fasilitas pemerintah itu harganya selangit ato nggak. Masalahnya adalah kita harus realistis dan nggak perlu bersikap lebay seolah2 pemerintah adalah penjahat negara.
Media (TV manapun itu) mengkonstruksi seolah2 kalo rakyatnya miskin, presiden dan para pejabat juga harus miskin. Aku bukannya ngedukung pemerintah, tapi mbok ya o…ga usah lebay gitu kenapa?? Media dan para pengamat sok teu beranggapan bahwa seolah2 orang2 pemerintah ga boleh punya fasilitas kelas atas karena rakyatnya miskin. Bo’…emang kita tinggal di Korea Utara apa?? Kalo gitu caranya, itu namanya sosialis. Satu melarat, melarat semua…satu kaya, kaya semua…. Percuma nyalahin pemerintah mulu’. Satu: pemerintah ga sepenuhnya salah, dua: kalo iya pun kecil kemungkinan didengar, tiga: dalam negara demokrasi semua adalah oleh-dari-untuk rakyat, daripada nyalahin pemerintah ga ada ujungnya, mending kita berusaha sekuat tenaga cari uang halal supaya bisa makan. Daripada ngomel ga jelas di TV, mending rakyat bergerak dengan kaki tangan sendiri supaya jelas kliatan hasilnya.
Kita ini tinggal di negara demokrasi yg secara langsung ga langsung mendukung adanya sistem kapitalisme. kalo terjadi gap antara satu orang dengan orang yg lain dalam hal ekonomi itu biasa. Orang miskin itu biasa, bahkan di Amerika dan Inggris sana banyak. Kita harus terima kenyataan kalo nggak semua orang di negara ini bisa makmur sejahtera.
02.07.10
Life after This
So, after being absent for so looonggg….time from the so-called football world (world?? or…drama stage??) now I come back (still with my low self-esteem and hopelessness or course) to write down something awkward about the thing the we all love, football. Note: you may not really love the game, but the gossip/news instead! Hehehe…
Yap, during my absence, I was filled by many crazy and unbelievable news everyday. I’d seen Hans Jorg-Butt knew how it feels having a penalty blocked (Van Gaal shouldn’t trust him anymore to be a penalty shooter, just put him on goal), I’d seen Rooney finally scored many goals, I’d seen Guti’s back to his genius vision on the pitch (so that Ronaldo’s absence is really NOT a problem), and oh yeah…I’d seen JT (John Terry, NOT Justin Timberlake) being exposed recently for his sex scandal whatsoever and eventually dropped down as the captain of England’s national team. Wait!! That’s not enough, you know…apparently, Manchester United scored many (own) goals also these days. Well, I don’t mind as long as Darren Fletcher is still being trusted as one of the most prominent midfielder in Premiere League.
*Sigh* Can we JUST enjoy football without some silly jokes overwhelmingly exposed on the media?? Now, Liverpool’s back again in the top 4 after Spurs draw again for the second time a row. It’s not fair for me, I’m saying this on behalf of the boredom of EPL lover who expects the league to be just lively!! Like Bundesliga, you know… Yeah, although Bayern is still on their winning track and Leverkusen is still on top, I believe (from what I’ve seen for all this time) that Bundesliga is the tightest league in Europe (read Four Four Two magazine if you don’t trust me). Last term we got Wolfsburg, we may have Leverkusen this time (you knows??). Moreover, Juyp Heynckes is a genius, if not, he wouldn’t save Bayern from ‘relegated status’ last year and lead Schalke to be almost champions in 2006/2007.
So, what’s after this?? Man. United become the champions again?? Or will Chelsea put forward a discourse of ‘a club which has a new famous-for-its-Champions League-titles manager’ win the league (only)?? Will Liverpool be back again (and eternally) in the big 4?? Readers, you KNOW the answer…
02.04.10
Hampir pada Titik Nadir
So, I didn’t got ‘that’ job, and the result is…I’m STILL jobless, useless, and filled by unhappiness. Sekarang, aku udah hampir masuk ke dalam ruang2 depresi dan keputusasaan. Aku udah pada satu titik nadir di mana aku udah lelah berusaha, lelah mencoba, lelah berharap, dan hampir lelah berdoa. 5 bulan nganggur emang belum apa2 dibandingkan yg udah nganggur selama setahun atau lebih, tapi keadaan keluargaku udah ga memungkinkan lagi buat aku nganggur terus2an.
Nah, di masa2 depresi inilah akhirnya aku harus akui bahwa aku punya satu penyesalan. Aku menyesal waktu masih kuliah aku ga aktif di berbagai kegiatan yg sekiranya bermanfaat buatku setelah lulus. Aku terlalu fokus pada studiku dan ga mau pontang-panting buat ngerjain yg lain. Aku nyesel sekarang, sumpah… Sedangkan pekerjaan2 yg aku incar hampir semua menginginkan tenaga berpengalaman. CV-ku bisa dibilang sangat minim sekali. Ga ada apa-apanya, cuma riwayat sekolah sama cuma 1 kali magang. Bener-bener ga ada apa-apanya.
Sekarang aku cuma bisa luntang-lantung cari lowongan kerja yg sesuai ma aku tanpa bisa dan mau berharap apapun. Aku sudah terlalu lelah….
01.23.10
Leaving Out My Comfort Zone
Well…yah…akhirnya aku malah jadi bolak-balik Jakarta-Solo kayak setrika gini gara2 kemaren ada panggilan wawancara di penerbit di Depok (WHICH…I have to remind you that…it’s still in South Jakarta actually a.k.a de facto). Haahh…akhirnya, setelah bertahun2 bergelut dengan duniaku yg nyaman, hidup di dalam comfort zone-ku, akhirnya harus aku akui bahwa aku emang harus keluar dari zona itu.
Setelah bertahun2, akhirnya aku ngerasain juga yg namanya numpang sana-sini, nyariin kantor yg manggil aku ampe hampir kesasar, ngejalanin yg namanya wawancara kerja untuk yg pertama kalinya (karena emang belum pernah kerja), berpetualang ke sana ke mari tanpa keluarga (inti) ku, semuanya cuma dengan modal nekat, surat lamaran, dan CV. Aku benar2 sadar, bahwa suatu saat nanti aku emang harus keluar dari comfort zone-ku demi ngeraih impian dan cita2 besarku yg udah ter-set di dalam otakku.
Well, pagi ini baru aja nyampe dari Bogor (karena aku numpang di rumah sodara di sana). Aku dengan takjubnya menikmati lagi kota Solo yg aku cintai, lingkungan yg aku kenal, desaku yg terpencil di pinggir kota Solo, dan terutama rumahku. It’s all still amazing for me, better than Jakarta, better than anything. Yeah right…there’s nothing feels like home, nothing like my own room, my own bed. Nothing…
01.09.10
My Mind is Not Here
Ga tahu kenapa, sejak pulang dari Jakarta, aku ngerasa pikiranku ga di sini (ga di rumah maksudnya). Beneran…pas pergi aku ngerasa homesick dan kangen kamarku, kasurku, radioku..tapi begitu pulang dan berada di kamarku sendiri, aku ngerasa ga nyatu ma kamarku lagi. Aku ngerasa pikiranku ke mana2, ga ada di tempat aku berada.
Lebay mungkin, tapi aku serius. Aku bahkan udah ga bisa ngerasain diriku sendiri dan semua hal2 yg biasanya aku lakuin di rumah. Misalnya, baca buku, nyuci piring, dengerin radio, nyetrika…aku bener2 ga bisa ngerasain hal2 yg biasanya ‘aku banget’. Aku rasa, aku udah terantuk realita lain di luar sana, suatu realita yg menggugah realitaku sendiri.
01.07.10
Yaaaiiii….!!!
Yaaiii….yipi yipi yey!!! Huehehehehehehee…. Aku lagi seneng….banget!! Oke gini ceritanya, aku tiba2 aja jatuh cinta ma dua penulis: Orhan Pamuk dan Milan Kundera.
(Orhan Pamuk) (Milan Kundera)
Semua gara2 aku pertama kali baca buku mereka yg terbit di Indonesia, My Name is Red karya Orhan Pamuk ma The Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera. Kalo pas pinjem bukunya Pamuk di perpus universitasnya kakakku, aku emang sengaja ambil bukunya dia coz sejak dulu aku jatuh cinta ma negara Turki jadi penasaran ma karya2 sastranya, hehehehe… Nah, kalo pas baca bukunya Milan Kundera, itu karena temennya yg merekomendasiin, terus download deh ebooknya.
Habis itu, aku jadi jatuh cinta berat ma bapak2 di atas, jadi napsu pengen baca semua bukunya. Sayangnya, di perpus universitas tempat kakakku kuliah cuma ada satu judul Orhan Pamuk (melas banget), dan di toko2 buku di tempatku ga ada yg jual. Aku udah ampe ke Jakarta juga ga nemu di Gramedia sana. Apalagi bukunya Milan Kundera. Nah, thanks to Mas Ronny dari GRI yg udah berbaik hati ngasih 3 judul bukunya Orhan Pamuk dalam bentuk ebook (buat Mbak Roos: aku tunggu yg Istanbul-nya, ya?? hehehehehe), jadinya aku bisa punya koleksi bukunya Pamuk walo baru 3 judul (sekarang tinggal nunggu komputerku sembuh supaya bisa baca, nge-net pake laptopnya sepupu nih…). Nah, beruntungnya aku lagi, aku juga nemu website yg nyediain ebooks-nya Milan Kundera, karena cuma ada 4 judul, aku ambil 3 deh. Masalahnya judul yg satunya aku dah baca.
Hehehehe, happy banget deh!!! Sekarang aku berdoa sekuat2nya supaya komputerku bisa cepet sembuh, jadi aku bisa cepet2 baca koleksi ebooks penulis favoritku
.
01.06.10
What a Holiday!!
Haaahhh…..say that I’m a plebeian, but I’ve just had my holiday in Jakarta. It was the second time I went there, and I was so astonished by the city. Why??? Karena emang banyak hal yg beda jauh ma kota Solo, tempat aku tinggal. Lebih tepatnya, di sana aku kayak kena cultural shock gitu. Jadinya, liburan di Jakarta malah bikin aku agak2 gimana…. gitu. Hehehe…ini dia beberapa catatanku selama di sana:
- Indifference
Orang yg tinggal di Jakarta dan bener2 meresapi jadi orang sana, kebanyakan (menurutku) agak2 indifferent a.k.a cuek berat. Aku ketemu beberapa orang yg emang tabiatnya kayak gitu. Kalo di Solo, orang yg ga kenal pun bisa saling sapa dan berbasa-basi buat sopan-santun, kalo di Jakarta…kita ga kenal sapa2 dan orang juga ga kenal kita, ya udah…ember…..PEDULI AMAT!!! Hmmm…aku ngomong gini juga berdasarkan pengalaman di mana aku dicuekin ma temen2nya sepupuku sendiri padahal di sana aku terhitung bantuin mereka buat acara resepsi nikahannya sepupuku itu. Kalo di Solo, aku pasti udah diajak kenalan. Tanpa sadar, bulikku alias istrinya omku juga termasuk orang yg cuek berat, dilihat dari lagaknya.
2. Mahal
Di Jakarta segala sesuatunya emang bisa dibilang mahal. Contoh: 1x masuk Dufan sendiri = belasan kali masuk Tawangmangu rombongan; 1x makan di pinggir jalan = 1x makan enak di Solo Grand Mall; 1 tahun kontrak rumah petak yg mungil = 1 tahun kontrak rumah lumayan di Solo. Itulah kenapa terjadi ironi di mana seorang staff yg punya jabatan cukup tinggi di salah satu bank besar di Indonesia hanya tinggal di sebuah rumah petak yg bisa dibilang kurang layak.
3. Pegel, Antri, dsb
Karena aku ke Jakarta pas liburan akhir tahun, aku jadi ketiban sial di mana2 harus antri. Maen di Dufan harus antri di setiap wahananya, mau naik ke puncak monas, harus antri 2,5 jam baru bisa naik. Bener2 deh, pegel semua jadinya kakiku ini…
4. Jauh
Pokoknya, jalan di Jakarta naik apapun dari satu tempat ke tempat lain, udah kayak keliling Solo dan daerah sekitarnya. Bagusnya, jalannya mulus (ga jelek maksudnya) dan di mana2 ada tol, jadi kalo ga pas jam masuk ato keluar kantor, berasa cepet. Padahal dari Solo ke Karanganyar aja udah keliatan jauh banget…
5. Homesick
Dari dulu aku udah pengen banget ke Jakarta, tapi tau2 ampe sana malah homesick. Yah, there’s nothing feels like our own home emang…Tidur aja aku jadi kangen kasurku sendiri, aku juga jadi kangen ritualku dengerin radio di kamar karena pas di sana malah ga bisa denger Prambors lantaran ga liat ada pesawat radio di sekitarku!! Hmm…tapi yg aku sadari adalah, aku Cuma harus membiasakan diri berada di tempat lain karena mau ga mau, suatu saat nanti aku harus keluar dari my comfort zone. Kalo ga gitu, aku ga bakalan bisa ngelakuin apa2 dan ga akan ke mana2….
Yah…gitulah liburanku di Jakarta. Katrok ya…?? hehehehe tapi ya itu, ini adalah yg kedua kalinya aku ke Jakarta setelah dulu waktu kecil banget. Untungnya aku punya om yg bisa nanggung akomodasinya hehehee…jadi kantong ga jebol nih….
12.19.09
Terlambat dan Terjebak
Haah…inilah nasib jadi orang yg telat punya minat baca alias baru2 aja hobi baca. Mampusnya aku adalah ketika aku mulai getol2nya baca buku, malah pas akses ke bukunya susah. Rumah jauh dari persewaan buku, ga punya duit buat beli buku, kalo mo ke perpustakaan di kampus kakak2ku juga ga bisa sewaktu karena tanpa kartu keanggotaan kakakku aku ga bisa pinjem buku, haaiihh….Terakhir aku suka download e-books version dari buku2 yg aku incer…eh….komputerku rusak dan mungkin ga bakalan selamet lagi, akhirnya juga ga bisa baca e-books. Mampus….yah, harapan terakhir adalah pergi ke toko buku di mana bisa baca buku gratis (hehehehe tanpa harus beli maksudnya, bisa lho…), itupun ga bisa setiap waktu yg diinginkan. Huuuaahhhh!!!! Nasib….nasib…
12.15.09
Idealis/Realistis
Dulu banget di blogku ini aku pernah bahas betapa negara Indonesia adalah negara yg rakyatnya suka sok miskin sendiri di dunia baik secara ucapan maupun tindakan. Kebanyakan orang ga bersyukur hidup di negara yg udah senyaman ini. Well, ngomong soal miskin, Indonesia ga sendiri karena masih banyak negara di luar sana yg kebanyakan rakyatnya miskin dan korup. Di Inggris aja masih banyak orang homeless yg tidur di pinggir jalan. Aku ga mengada-ada coz aku nulis ini juga berdasarkan pengalaman dosenku yg pernah kuliah S2 di sana. Ngomong2 soal ga bersyukur, aku jadi inget bahasan temenku di blog-nya di mana dia sangat bersyukur bisa kuliah di negara ini dan ga bisa ngebayangin kalo dia musti kuliah di Palestina di mana pengen ketemu dosen aja harus menghindari tembakan salah sasaran. Orang2 Indonesia sering kali suka lebay, sebuah tradisi yg dimulai entah dari jaman kapan.
Ngomog2 soal korupsi, regarding the huge demonstration on 9/12, orang2 Indonesia juga suka lebay. Di TV aku bahkan nonton sebuah acara demo besar2an dgn pembacaan puisi berjudul ”Negeri Para Bedebah”. Well, itu puisi juga lebay banget kalo aku bilang. Seolah2 cuma negara kita yg korup, Cuma negara yg pemerintahannya bobrok dan Cuma kita yg rakyat miskinnya tambah miskin dan orang kayanya tambah kaya. Sorry to say, tapi mungkin orang yg bikin puisi itu (ga tahu sapa) ga pernah baca/nonton berita2 luar negeri ato malah ga pernah baca buku sama sekali. Tanyalah pada Barack Obama, Gordon Brown, Nicolas Sarkozy, Angela Merkel, Hamid Karzai, Mahmoud Ahmadinejad, Dmitry Medvedev, Raul Castro (ato pemimpin negara manapun itu) apakah ada negara yg bersih 100 % pemerintahannya dan makmur sejahtera semua rakyatnya. Aku yakin, at least dalam hati terdalam mereka, jawabannya adalah TIDAK. Swiss ma New Zealand negara paling kaya dan paling bersih dari korupsi aja masih ada korupsinya. Kalo nuruti puisinya itu berarti semua negeri di dunia ini adalah negeri bedebah!!! Yg paling realistis dan bisa dilakuin adalah meminimalisir angka korupsi.
Dan soal kaya-miskin, well, just be realistic people! Di dunia ini Cuma ada kapitalis ma komunis/sosialis. Kita udah terjerat ke kapitalisme (you may say neoliberal or whatsoever lah ya…) walo masih ada sedikit campur tangan negara di mana sangat realistis yg kaya semakin kaya dan yg miskin makin miskin. Kalo ga mo gitu ya silakan jadikan negara ini komunis/sosialis. Emang ada ekonomi syariah ala Islam sebagai solusi tepat di mana orang2 miskin selalu bisa dapet bagian dari harta orang kaya. Tapi itu juga sulit karena banyak kaum muslim yg (akui aja) ga taat perintah Allah. Dan kalo hukum syari’ah mo diterapkan secara utuh di negeri ini juga belum tentu bisa dengan segala pertimbangan yg ada.
Ga tahu kenapa sekarang orang2 Indonesia tambah lebay, berkoar2 di media dan demo ga jelas soal korupsi dan pemerintahan bobrok. Now, why don’t we just be idealist in action and not in talks?? Daripada ngomong ga jelas di media dan demo ampe boyok pegel, mending kalo punya sedikit uang kita kasihkan ke pengemis, pengamen, pengusaha kecil yg kurang modal, fakir miskin yg ga bisa makan, ato bantu anak2 ga mampu buat sekolah (at least buku ma seragamnya coz sekolah sekarang dah gratis). Dan buat mahasiswa2 yg doyan demo itu, mending jadi aktivis sehat daripada demo mulu tapi kuliah ga selese2. Sadar ato ga, dgn tidak cepat selesenya kuliah kalian, kalian udah nambah beban orang tua kalian (kantong dan mental mestinya) dan nambah miskin mereka. Mendingan kalian belajar yg rajin dan ningkatin kemampuan otak kalian supaya otak kalian itu ga kalah ma otak orang Barat, jadinya kita ini ga dijajah mulu secara ekonomi, politik, sosial, maupun budaya.
12.03.09
Battle Studies – John Mayer

Whhuuuaaahh…..finally!! After such a loongg….time I’d been waiting for John Mayer’s new album, he now finally come up with his (of course) new album: Battle Studies. Aku bener2 girang setengah mati ga ada habisnya, pokoknya pengennya dengerin terus…terus…dan terus….
Ga seperti album barunya Kelly Clarkson kemaren (All I Ever Wanted) yg bikin aku kecewa padahal aku nunggunya juga udah ampe buntuten, aku seneng banget ma album baru salah satu musisi favoritku ini. Ga kecewa sama sekali deh!! Semua lagunya OKE dan musiknya itu lho…wuihh…dalem banget! Apalagi sound gitar ala John Mayer sendiri yg terdengar sederhana tapi justru di sisi lain sangat menakjubkan. Ditambah lirik2 tentang cinta yg nggak menyek2 tapi sinis dan agak keras. Paling2 yg agak2 romantis (baca: biasa) ya lirik lagu Half of My Heart yg featuring Taylor Swift (emang beneran featuring deh, lha wong suara Taylor Swift cuma keluar bentar banget di akhir2 lagu). Aku ga tahu juga apa lirik2 lagu di album ini ada hubungannya ma hubungan Mayer dan Jennifer Anniston yg kandas cuma gara2 Twitter (such a silly thing, right?). Tapi yah, yg penting lagu2nya keren2 deh!
Ada 5 lagu favoritku dari 11 lagu yg ada di album ini. Yg paling aku suka justru lagu terakhir yg judulnya Love, Friend, or Nothing, terus aku juga suka All We Ever Do is Say Goodbye, Perfectly Lonely (biasa lah…semacam lagu kebangsaanku gitu), Assassin, ma Edge of Desire. Kalo dua lagu terakhir itu aku lebih appreciate musiknya karena emang terdengar jenius banget. Nah, yg sounds so different (dan mungkin kayak bukan John Mayer banget) malah lagu Crossroads. Gila tuh lagu berani banget dah! Agak2 tanggung antara rock, blues, ma pop gitu kalo aku ga salah (sori, bukan ahli musik masalahnya), tapi untung jadinya keren. Kalo lagu2 macam Heartbreak Warfare, Who Says, ma War of My Life emang udah tipikal John Mayer banget lah. Yg cukup unik ya lagu Do You Know Me yg sendu dan pelan banget.
Pokoknya Battle Studies is the best album I’ve ever listened to this year deh!! Nggak ada yg nandingin! Sorry to say, but Lily Allen’s It’s Not Me, It’s You masih agak di bawahnya. Catet: agak.


