Masalah Perdagangan Manusia

Sebenernya aku ga begitu concern sama isu human trafficking ato perdagangan manusia. Mungkin karena aku belum pernah menyentuh area itu sepanjang pengalamanku, jadi aku ga pernah kepikiran buat ngebahas ato mempelajari isu itu. Tapi ternyata di kotaku, Solo, isu ini menjadi penting karena banyak kasus terjadi di kota ini. Kemaren aku juga baru tahu lewat seminar yg diadain sama pemkot Solo.

Dasarnya adalah perkembangan kota Solo yg sangat pesat, terutama dari segi ekonomi dengan investasi berlimpah dan wisata kulinernya, dan budaya serta kondisi sosial yg menjanjikan di mana biaya pendidikan dan kesehatan gratis. Istilahnya, karena perkembangan ekonominya, banyak orang yg datang ke Solo untuk menetap ato cuma ngelajo buat kerja di siang hari. Perkembangan ini juga memicu terjadinya perdagangan manusia, terutama perempuan dan anak2.

Berdasarkan materi diskusi, ada beberapa faktor kenapa ‘kebanyakan’ yg diperdagangkan adalah perempuan dan anak2:

1. faktor budaya yg menganggap perempuan dan anak sebagai hak milik

2. stereotype perempuan (terutama dalam budaya Jawa) yg dianggap subordinat/inferior, yaitu sebagai konco wingking (dapur, sumur, dan kasur)

3. suara perempuan dan anak tidak dianggap sebagai aspirasi dan partisipasi

4. aksesibilitas perempuan dan anak sangat terbatas.

Untuk langkah preventif-nya, Yayasan KAKAK (LSM untuk anak2 di Solo) sudah berusaha untuk menyampaikan berbagai informasi mengenai hak2 anak2 melalui berbagai media: radio, teater, buku, training dan pendidikan komunitas. Yang jelas ada banyak langkah perlawanan terhadap perdagangan manusia di Solo karena ada konsorsium PTPAS yg terdiri dari berbagai LSM, organisasi dan pemerintah yg digunakan sebagai sarana pelaporan kasus2 perdagangan manusia.

Ngeliat kondisi di Solo sendiri, isu ini ternyata emang penting untuk dikedepankan. Selain prostitusi, sekarang kita bisa liat banyak sekali anak2 kecil yg digunakan untuk mengemis dan meminta2, entah itu di jalan2 ato dari rumah ke rumah. Di lingkungan rumahku aja, setiap hari Selasa datang para pengemis berbondong2 dengan menggendong ato menggandeng anak2 kecil yg aku curigai (tentunya) bukan anak mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi sangat umum di mana anak diperjual belikan ato disewakan untuk diajak mengemis. Lumrah aja, karena ketika orang yg dimintai melihat ada anak yg masih kecil, mereka pasti ternyuh dan terdorong untuk memberi. ‘Kejahatan’ ini sudah sangat umum di mana2, bukan cuma di Solo aja.

Nah, mungkin karena di Indonesia pada umumnya dan Solo pada khususnya yg masuk area prostitusi ‘baru’ perempuan, jadi concern masalah ini lebih banyak pada kaum perempuan. Kalo di negara2 barat udah beda lagi. Aku pernah baca berita di koran kalo di Spanyol banyak laki-laki diperdagangkan buat jadi gigolo dan mereka itu didatangkan dari Brasil. Yah, akhirnya para lelaki itu serta sindikatnya digaruk juga sih…

About these ads

2 thoughts on “Masalah Perdagangan Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s