Materi dan Masalah Gender

Well, sebenernya aku udah pengen ngebahas masalah ini di sini sejak lama. Tapi belum sempet, dan mumpung sekarang pas waktunya perayaan Kartini, aku pengen ngebahas pemikirankanku ini di sini. Peringatan dulu aja ya, pemikiranku ini cuma sebuah asumsi dan/atau hipotesis yang muncul sebagai hasil dari membaca sedikit buku dan menyerap sedikit ilmu. Mungkin emang ga sepenuhnya bener, namanya juga cuma hipotesis, belum dibuktikan. But yeah, here we go.

Oke, sepanjang hari Kartini kemarin, banyak sekali iklan dan acara di TV yang membahas masalah kesetaraan wanita dan pria, lalu menyeret kata gender. *Sigh* aku sendiri selama dua minggu kemaren banyak dapet proyek nerjemahin jurnal-jurnal masalah gender, terutama dalam masyarakat dan sistem pemerintahan. Oke, itu jurnal-jurnal Barat, layaklah kalo ngebahas masalah kayak gitu. Tapi kita? Apa kita, orang Timur (terutama sebagai orang Indonesia), punya masalah yang sama? Atau at least, pemikiran yang sama? Dan apakah sebenarnya Kartini dulu memperjuangkan masalah kesetaraan gender dan benar-benar memperjuangkan gerakan feminisme?

Begini, menurut sedikit buku yang aku baca dan ilmu yang aku serap selama kuliah, aku menarik kesimpulan kalo masalah gender di Barat, terutama di Amerika, muncul karena masalah uang, masalah materi. Money is power, itulah intinya di Barat. Siapa yang punya uang, dia yang berkuasa. Yang jelas, di sana pria (para umumnya) adalah breadwinner (pencari nafkah), dan wanita cuma ngerjain pekerjaan rumah tangga di rumah. Oke, di mana-mana juga gitu ya? Di sini juga gitu ya? Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya berasal dari kapitalisme yang menjadi darah dan daging negara-negara Barat. Karena kapitalisme-lah uang menjadi raja, uang menjadi lambang kuasa.

Lalu, hubungannya sama gender dan feminisme? Ada, banyak malah, kalo menurutku. Wanita-wanita di Barat jadi mengukur posisi mereka berdasarkan kepemilikan uang, karena pada umumnya bukan breadwinner (atau pencari nafkah) yang utama, makanya wanita-wanita Barat merasa lemah, tak berdaya, ga punya kuasa, dll. Lalu masalahnya merembet ke masalah yang lain: kesetaraan kedudukan dalam politik, kesamaan kekuataan fisik (dalam olah raga, contohnya), lalu setelah dapet kerja jadi merembet ke masalah kesamaan gaji, lalu masalah apakah wanita bisa hidup tanpa pria atau tidak lalu muncul lesbianisme dan homoseksualitas, dll. Masalahnya jadi banyak dan ga selesai-selesai sampai sekarang. Makanya feminisme sejak dulu ada banyak macamnya, dari feminisme gelombang pertama (masalah politik), gelombang kedua (masalah tubuh dan lesbianisme – homoseksualitas), gelombang ketiga alias post-feminism (kekuatan seksualitas wanita untuk mendapatkan uang dan yang lainnya), dan sekarang ada neo-feminisme ala Katy Perry yang entah apa maksudnya.

Lalu paham-paham itu masuk ke negara kita melalui ilmu dan berbagai akses (terutama merembetnya kepitalisme ke area kita), dan kita merasa wanita-wanita Timur, dan Indonesia khususnya, mempunyai masalah yg sama. Lalu kita mengidolakan Kartini sebagai lambang feminisme dan kesetaraan gender kita. Kita menganggap Kartini dulu memperjuangkan kesetaraan gender dan masalah semacamnya. Padahal setahuku, dulu Kartini cuma memperjuangkan pendidikan, khususnya bagi para wanita, agar mereka terdidik dan bisa menjadi istri yang baik. Nah loh? Idenya aja udah beda jauh sama ide-ide feminisme dan kesetaraan gender.

So, apakah kita punya masalah yang sama? Tepatkah kita mempermasalahkan hal itu? Let’s face it. Di negara kita, dalam budaya kita, ibu adalah seorang matron yang harus lebih dituruti, dihormati, dan diagungkan (karena pada khususnya paham itu datang dari ajaran Islam yg banyak dianut di negara kita hingga mendarah-daging dalam budaya kita, yaitu: surga ada di bawah telapak kaki ibu). Kebanyakan juga (walau mungkin juga tidak semuanya), ibu-lah yang mengatur keuangan di dalam rumah tangga. Jadi meskipun bukan breadwinner utama (maksudku menggunakan kata ‘utama’ karena sejak zaman Nabi Muhammad dulu wanita juga udah bisa bekerja, pas zaman penjajahan dulu wanita juga bekerja, ya nggak?), para ibu dalam budaya kita memegang dan mengatur masalah keuangan dalam rumah tangga. Pengalaman pribadiku juga gitu. Dulu papaku kalo udah gajian, sebagian besar uangnya juga dikasihkan ke mamaku buat kebutuhan rumah tangga, jadinya aku kalo mau minta uang jajan juga ke mamaku, bukan ke papaku.  Sedangkan di masyarakat Barat, ayah adalah patron (masalahnya pada umumnya mereka bukan penganut Islam), dan yang megang uang tetaplah ayah, bukan ibu. Yang bener-bener harus dituruti, dihormati, dan diagungkan adalah sosok ayah. Lihat aja contohnya di film-film Hollywood yang bertemakan keluarga.

See? Lihat nggak bedanya? Apa kita benar-benar punya masalah itu? Yang diperjuangkan Kartini bukan feminisme, tapi pendidikan untuk semua, terutama wanita, dengan tujuan agar wanita bisa menjadi istri yang baik. Kalo masalah pekerjaan, semua wanita juga bisa bekerja. Dalam agama Islam juga memperbolehkan wanita bekerja, bisa dilihat dalam surat Annisa dan hadis yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad dulu pernah memperkerjakan seorang wanita karena keahliannya. Nggak ada yang perlu dipermasalahkan. Yah, kecuali para wanita Indonesia mau mempermasalahkan diri mereka sendiri.

Aku setuju dengan pendapat seorang ulama Islam (ga usah aku sebut namanya) kalo setiap manusia punya karakter dan ciri khasnya masing-masing, punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Dan bagiku, semua itu pada akhirnya harus menyesuaikan dengan apa-apa yang kita kerjakan, sesuai dengan kemampuan otak, fisik, dan emosi kita.

Intinya, bagiku nggak ada yang perlu dipermasalahkan, kecuali ya itu tadi, wanita-wanita Indonesia lain mau mempermasalahkan diri mereka sendiri. Menurutku, yang perlu dipermasalahkan adalah keadilan dan sikap pria terhadap wanita. Adil itu bukannya sama rata, tapi mendapatkan apa-apa yang sesuai dengan porsi dan hak masing-masing. Sikap pria terhadap wanita juga harus lebih baik dan menghormati, jangan cuma menganggap wanita itu obyek seks semata. Begitu maksudku.

Ada pendapat lain? Feel free to leave a comment or two here.

About these ads

2 thoughts on “Materi dan Masalah Gender

  1. Alhmdulillah aku dapat Ilmu dari mu Sobat Kartini_Makasih atas share nya….
    Aku jga sering sHAre dengan teman2 mengenai gender ini sobat..,:)
    Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s