Akhir-akhir media disibukkan dengan pemberitaan kenaikan BBM dan demonstrasi2 menolak kenaikan tersebut. Hal yang lumrah dalam dunia bisnis media: jika ingin maju dan untung, maka harus tetap mengangkat tinggi2 isu yang sedang hangat, atau bahkan panas. Namun bagi saya, semua itu memuakkan. Rasanya seperti tidak mau makan.
Jika dilihat secara global, kenaikan harga BBM disebabkan oleh dua hal: krisis ekonomi Amerika Serikat, dan enggannya (tidak mau lebih tepat) negara2 Liga Arab menuruti Amerika untuk menaikkan jumlah distribusi minyak agar harga minyak yang sudah terlanjur naik bisa turun. Bisa dimengerti, karena dalam bahasa sehari2, Liga Arab sedang berkata pada Amerika, “Jika ekonomi negaramu sedang kacau, apa urusan kami??”. Masalah krisis ekonomi global yang ditandai dengan naiknya nilai Euro atas USD, membuat harga minyak terus naik, menembus angka USD 130 / barrel.
Hampir semua negara di dunia sudah menaikkan (menyesuaikan tepatnya) harga minyak, termasuk di Eropa dan Asia. Beberapa negara sejawat Indonesia di Asia Tenggara bahkan sudah menaikkan harga BBM menjadi sangat tinggi jika diukur dengan mata uang Rupiah. Kita, Indonesia, adalah negara berikutnya yang pada tanggal 23 Mei 2008 lalu, telah menaikkan harga BBM. Bodohnya, kenaikan harga BBM ini bukan menjadi masalah ekonomi, tapi secara diam-diam telah menjadi masalah politik. Dan politik, di Indonesia, seperti kata salah seorang dosen saya, tidak ada dasar filsafatnya. Politik tinggal politik. Titik. Dan akhirnya? Politik hanyalah ajang untuk mencari kekuasaan dan uang.
Pertama, saya ingin menegaskan bahwa saya bukanlah pendukung sejati SBY-JK, atau pemuja pemerintah karena bagi saya pemerintah hanyalah orang2 yang berpolitik. Namun, melihat kondisi dunia yang tidak menentu, dengan konsekuensi Indonesia adalah bagian dari dunia itu sendiri, maka mau tidak mau kita harus ikut terseret ke dalam kondisi itu. Menaikkan harga BBM bukanlah suatu kebijakan yang bijak, tapi memang perlu dilakukan. Anggap saja seperti memarahi anak bukanlah suatu tindakan yang bijak, tapi kadang perlu juga memarahi anak agar ia tidak jadi bandit kelak.
Berhari-hari setelah harga BBM naik, semua orang seperti kesurupan setan dan berteriak2 di jalan raya, mahasiswa2, ormas2, rakyat kecil, sampai para politikus musuh sang presiden yang tidak bijak. Setahun lagi akan ada PEMILU di mana Indonesia akan kembali mengganti presidennya, maka jelas sudah arah semua ajang kesurupan itu. Ajang penggembosan pemerintahan saat ini, agar dipuja rakyat dan akhirnya meraih kekuasaan tertinggi negara, menjadi presiden. Hubungannya dengan mahasiswa, ormas, dan rakyat?? Mereka semua hanyalah ALAT.
Mahasiswa yang pintar seharusnya tahu tentang keadaan ekonomi saat ini. Dan jika mereka benar2 pintar, maka mereka akan membantu pemerintah (atau rakyat, itu akan lebih bagus) untuk mencari solusi agar harga BBM tidak perlu naik, atau mungkin agar rakyat bisa mengurangi penggunaan BBM sebagai penghematan energi. Tapi saya rasa mereka tidak cukup pintar. Mungkin karena di kampus mereka sendiri, mereka terlalu sering nitip absen saat kuliah, sering menyontek saat ujian, atau terlalu sering meng-copy tugas2 temannya hingga mereka tidak cukup pintar untuk mencari jalan keluar bagi kebuntuan yang dialami bangsanya. Berdemolah jika ingin demo, bawalah semangat Soe Hok Gie kalau perlu. Tapi jadilah pintar, bantulah rakyat negaramu tercinta ini jika memang pemerintah tidak bisa membantu.
Ormas2 dan rakyat2 kecil itu apalagi. Mereka pasti sudah disuntik selembar dua lembar uang untuk makan agar mau ikut memprotes kebijakan pemerintah. Di mata saya, orang2 itu hanyalah orang2 manja yang terus terngiang enaknya dimanja subsidi Pak Harto yang berasal dari hutang jutaan dollar yang nantinya harus memiskinkan anak-cucu Indonesia jika terus diperpanjang. Oh ya, masih ada yang ingat siapa yang menjatuhkan Pak Harto?? MAHASISWA!!! Jika para rakyat kecil itu masih ingin dimanja pemerintah layaknya yang dilakukan Pak Harto, minta tolonglah kepada para mahasiswa itu untuk membangkitkan Pak Harto dari kuburnya!!
Bodohnya lagi, orang2 manja itu mau saja dikangkangi para politikus untuk menggembosi pemerintah sekarang dengan isu kenaikan harga BBM. Masyarakat tidak akan pernah pintar jika terus dan terus mau dibodohi kekuasaan. Masyarakat tidak akan pernah pintar jika terus dan terus manja.
Banyak yang berkata BLT bukanlah jalan keluar semua masalah ini. BLT hanya akan semakin memanjakan rakyat karena kebijkan memberi uang secara cuma2. Sekali lagi, bagi banyak orang, hal itu merupakan kebijakan yang kurang bijak, tapi (bagi saya) memang perlu dilakukan agar setidaknya rakyat punya uang untuk melanjutkan hidup karena harga barang2 sudah naik. Anggap saja BLT adalah representasi dari zakat dalam Islam (karena zakat itu juga cuma2, heh jangan bilang ajaran Islam juga kurang bijak!), atau interpretasi dari kalimat “fakir miskin dan anak2 terlantar dipelihara oleh negara”, itupun kalau masih ada yang ingat dengan kalimat tersebut. Kalau masih ada yang menentangnya dan menganggapnya bodoh, lihatlah Amerika Serikat. Negara semaju itu saja masih mau memanjakan rakyatnya, karena setiap pengangguran dan tunawisma, hidupnya ditanggung oleh pemerintah, sepenuhnya. Kebijakan seperti itu memang tidak akan bisa mendidik, tapi kadang memang perlu dilakukan.
Kita, masyarakat Indonesia, memang tumbuh menjadi masyarakat pemalas dan manja. Lihat saja para pelajar kebanyakan zaman sekarang, para karyawan berseragam yang duduk di belakang meja dan digaji seumur hidupnya, para pengamen berbaju necis, dan anak2 yang seharusnya sekolah tapi justru meminta2.
Tabiat malas dan manja inilah yang mendorong setiap generasi untuk terus menyalahkan pemerintah jika ada sesuatu yang buruk terjadi. Kenaikan harga ini, kenaikan harga itu, masalah ini, masalah itu, pemberontakan ini dan itu, dijajah negara ini dan itu, peninggalan yang dicuri si ini dan itu…..Begitu seterusnya tanpa ada putusnya. Rakyat tak mau susah-susah berpikir, mereka ingin semua masalah harus sudah bisa diselesaikan oleh pemerintah. Istilahnya, untuk makan saja mereka tidak mau memasak, mereka ingin langsung dari restoran siap saji yang makanannya bisa membuat mereka gemuk dan sakit. Parah, masyarakat yang parah.
Ini adalah sebuah negara!! Negara punya dua bagian, pemerintah dan rakyat!! Pemerintah memang seharusnya menjadikan rakyat makmur sejahtera dengan kebijakan pas dan terarah, serta pintar. Namun jika pemerintah sendiri terlalu sibuk korup dan menaikkan gaji sendiri, hingga kebijakannya pun terlihat tidak pintar, maka rakyatlah yang harus bergerak! Kita adalah bangunan dari individu-individu, harusnya kita bisa sedikit independen. MANDIRI!! Lakukan sesuatu untuk memudahkan hidup agar tidak susah.
Jika BBM naik, para pengguna kendaraan pribadi obyek para kapitalis itu seharusnya mau sadar untuk naik kendaraan umum, tidak pergi ke tempat2 yang tidak perlu, seperti…tempat dugem??!! Jika harga barang2 naik, sadarlah untuk hidup sederhana, bukannya malah berfoya2. Jika pendidikan mahal, sadarlah bahwa beasiswa itu untuk membayar uang SPP, bukannya untuk belanja! Sadarlah jika beasiswa itu hanya pantas untuk para pelajar miskin, bukan para pelajar berprestasi yang orang tuanya punya bisnis dan bergaji besar!
Di televisi, muncul berita dengan judul “BLT tidak mampu mengentaskan kemiskinan”. Tentu saja! Memangnya datang dari mana kalimat “BLT mampu mengentaskan kemiskinan”?? BLT ada untuk membantu orang2 miskin membeli barang2 kebutuhan pokok yang harganya naik, bukan untuk menjadikan orang miskin mendadak kaya!! Toh, jika harga BBM tetap rendah atau turun pun, rakyat miskin akan tetap miskin!!! Tahu kenapa?? Karena mereka MANJA!!!! Lebih bodohnya lagi, di televisi itu juga, ada berita tentang para pendemo yang membawa sepeda motor sambil berjalan di jalan raya yang menyimbolkan bahwa “rakyat miskin sudah tidak bisa lagi naik motor karena BBM mahal”. Saya baru tahu kalau ada orang miskin yang punya sepeda motor. Bodoh!